Selamat Ulang Tahun Ke-32 UT. Semoga Tuhan memberi umur panjang yang penuh dengan manfaat dan kebaikan.
“Bertambah usia, artinya berkuranglah jatah hidup ini. Tetapi itu tidak mengurangi eratnya pengabdian. Bahkan seiring berjalannya waktu, pengabdian dan dharma bakti Universitas Terbuka terasa semakin kokoh dan profesional. Semoga Tuhan memberi umur panjang yang penuh dengan manfaat dan kebaikan. Dirgahayu UT ke 32”.

Wednesday, 17 June 2015

Sejimpit Beras Membawa Nikmat

Rochimudin | Wednesday, 17 June 2015 | 02:05 |
Aku dan Ibu Siti bergegas melangkahkan kaki berjalan menuruni tangga dan menyusuri lorong selasar rumah sakit untuk segera membeli nasi bungkus. Aku membeli dua bungkus nasi untuk dimakan kami berdua yaitu aku dan bapak. Sedangkan Ibu Siti yaitu seorang ibu yang juga menunggui suaminya yang sedang mondok opname juga di sebelah kamar bapak. Kulihat apa yang dibelinya, ternyata ia hanya membeli sayur dan lauk pauk.

Ketika siang hari sekira jam 12.00 WIB, aku mulai lapar dan segera pergi untuk membeli nasi bungkus. Seperti biasa, Ibu Siti titip untuk dibelikan sayur dan sedikit lauk. Aku berpikir mengapa tidak pakai nasi, apa dapat kenyang? Setelah kembali ke bangsal dan makan nasi bungkus, ku beranikan untuk bertanya,"Maaf Ibu, kok tidak pernah membeli nasi, apakah sedang diet atau perintah dokter?" Pelan-pelan aku bertanya agar tidak menyinggung perasaan.

Dijawabnya,"Kami membawa nasi sendiri memasak dari rumah". Dalam hatiku, ah ..... pelit dan ribet amat sih membawa nasi dari rumah. Lalu kucoba bertanya lagi karena penasaran masa setiap hari sudah sampai hari ke lima di rumah sakit selalu membawa nasi. "Bu, mengapa tidak membeli saja kan praktis tidak merepotkan anaknya sehingga tiap pagi ke rumah sakit?" kataku. 

"Enggak mas, sudah biasa kami memasak sendiri lagian rumah juga tidak begitu jauh" jawab Ibu Siti. Lalu kutanya lagi, "Masak nasi kan udah biasa, lalu apa sih istimewanya?" Kemudian Ibu Siti duduk mendekat dan memberikan penjelasan dengan setelah suaminya dipijit-pijit dan tertidur.

Ia menjelaskan dengan panjang lebar. Bahwasanya memasak memang sudah biasa bagi ibu-ibu di rumah, itu adalah bagian dari bakti seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Setiap tanggal muda ia diberi sejumlah uang untuk membeli beras untuk mencukupi kebutuhan selama satu bulan. Ibu Siti selalu memperkirakan kebutuhan konsumsi makan sekeluarga selama satu bulan dengan dua orang anak. Misalnya satu bulan membutuhkan beras 30 kg. Taruhlah beras 1 kg dengan harga Rp 10.000. Maka perlu Rp 300.000 dalam sebulan untuk membeli beras. 

Sedangkan sekali membeli nasi bungkus (nasi tanpa sayur dan lauk) Rp 3000.  Kalau satu orang sehari berarti perlu Rp 9.000. Nah coba dihitung berapa hematnya dibanding dengan memasak sendiri. Itu yang pertama.

Yang kedua, supaya tidak ada nasi yang terbuang percuma karena kelebihan maka setiap hari diambil satu jimpit beras dari jatah 1 kg per hari dari yang dimasak. Satu jimpit adalah satu cangkir kecil atau sekitar setengah gelas. Coba dihitung kalau satu hari satu jimpit, maka selama satu bulan berarti 30 cangkir beras. Belum kalau ditambah keluarga kami sering berpuasa sehingga pasti bertambah jumlah berasnya di atas 30 cangkir. Kalau dijumlahkan 30 cangkir setara dengan 6 sampai 8 kg. Artinya bisa dihemat Rp 80.000 per bulan. Jangan meremehkan Rp 80.000 atau 8 kg perbulan, mungkin sedikit tetapi kalau rutin setiap bulan maka satu tahun akan berhasil di hemat Rp 80.000 X 12 bulan yaitu Rp 960.000,- Berhasil menghemat sama dengan berhasil memiliki tabungan.

Ya, itulah bentuk menabung seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja, namun bisa menyisihkan tanpa mengurangi hak suami dan anak-anak untuk makan. Itu hanya beras, belum misalnya sayuran atau kebutuhan lain yang bisa dihemat. Alhamdulillah suaminya pengertian. Uang hasil tabungannya tidak diambil oleh suami ataupun tidak dikurangi jatah bulanannya. Ibu Siti diberi kebebasan untuk menggunakannya karena itu hak istri, meskipun kadang digunakan untuk membantu kebutuhan anak-anaknya tanpa sepengetahuan dari suami agar tidak memberatkan suami, apalagi bapak juga sedang sakit.

Demikian penjelasan dari Ibu Siti. Dalam hati aku berucap, "Luar biasa pemikiran dan hatinya, betul-betul istri solekhah yang dapat menjaga diri dan keluarga". Semoga Ibu Siti senantiasa mendapat perlindungan dan rakhmat Alloh serta suaminya segera sembuh. 

Akhirnya dari cerita Ibu Siti tersebut memberi inspirasi bagi saya. Dan semoga istriku juga dapat mengambil hikmah setelah aku ceritakan besok, setelah bapak sembuh dan pulang dari rumah sakit. Menabung memang tidak harus uang namun apa yang bisa dilakukan untuk menghemat juga bagian dari menabung. Ku teringat peribahasa waktu sekolah di SD dulu, rajin pangkal pandai dan hemat pangkal kaya. Ibu Siti telah membuktikannya, sejimpit beras membawa nikmat. Cermat dalam merencanakan membuat tabungan semakin bertambah.

Kita perlu ingat dan harus yakin, bahwa menabung tidak akan membuat kita miskin. Bahkan membelanjakan uang kita untuk membantu seperti sumbangan, infak, dan sodaqoh tidak akan membuat kita jatuh miskin dan Alloh SWT telah berjanji akan melipatgandakannya bagi hamba-Nya yang ikhlas, namun kita tidak diberitahu kapan Dia akan melipatgandakannya karena rejeki itu bagian dari rahasia Ilahi.



No comments:

Post a Comment

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
//