Selamat Membaca. Semoga dapat membantu Anda dalam memperoleh informasi yang diinginkan.
“Bertambah usia, artinya berkuranglah jatah hidup ini. Tetapi itu tidak mengurangi eratnya pengabdian. Bahkan seiring berjalannya waktu, pengabdian dan dharma bakti Universitas Terbuka terasa semakin kokoh dan profesional. Semoga Tuhan memberi umur panjang yang penuh dengan manfaat dan kebaikan”.

Sunday, 23 August 2015

Dari Tambora yang Dulu Sangar Kini Kau Mempesona ke Bedugul nan Cantik Memikat

Rochimudin | Sunday, 23 August 2015 | 23:14 |
Kaldera di puncak Tambora (dok gbr: Wikipedia.org)
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata TAMBORA? Bagi Anda pecinta wisata gunung, pecinta alam gunung, penikmat sejarah alam dan budaya, pengamat atau pecinta gunung berapi, atau traveler mesti tahu dan mungkin pernah mendaki. Ya, gunung Tambora sekarang menawarkan keindahan, kemegahan, keramahan, keragaman hayati, dan masih banyak lagi.
Bahkan Kalderanya merupakan yang terbesar di dunia. Tapi pertanyaannya, apakah Anda sudah atau pernah ke Tambora? Jawabannya, hanya ada disana dan ..... nikmatilah secara langsung. 


Peta Nusa Tenggara Barat (dok gbr: lokasiindonesia.blogspot.com)
Gunung Tambora merupakan sebuah gunung dengan tipe stratovolcano aktif yang berada di pulau Sumbawa. Tambora terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.  


Ibu Siti Maryam dan Naskah kuno Bo Sangaji Kai
(dok gbr: newsdetik.com)
Kisah Tambora terdapat dalam naskah kuno yang disebut Bo Sangaji Kai milik Kesultanan Bima. Naskah ini ditulis dalam bahasa Arab-Melayu oleh juru tulis istana sekitar tahun 1600 - 1800 M. Ina Kau Mary (Ibu Besar Maryam yang nama lengkapnya Siti Maryam Salahuddin) yang merupakan keturunan terakhir Kesultanan Bima, membacakan kisah sebelum meletusnya Gunung Tambora yang tertulis dalam naskah Bo. Meski sudah cukup tua (88 tahun), Maryam masih semangat membacakan naskah Bo (newsdetik.com).

Beberapa hari sebelum letusan hebat tersebut terjadi, Raja Tambora mengirim utusan ke Bima, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sebab saat itu Gunung Tambora sudah cukup bergejolak.

"Karena sudah beberapa hari, ada bunyi di dalam gunung, ada letusan. Orang-orang ketakutan, ada apa ini. Raja kirim utusan ke Bima untuk selidiki," cerita perempuan yang akrab disapa Ina Kau Mary ini di kediamannya, Jl Gajahmada 1, Kota Bima, NTB.

Goncangan itu tak hanya dirasakan di sekitar Tambora saja, namun juga hingga ke Kota Bima. Sebaliknya, Belanda yang kala itu sudah mulai menduduki NTB, juga mengirim utusan untuk mengecek kondisi di Tambora. Namun sang utusan tak pernah kembali. Tambora meletus pada 1815.

Itulah cerita letusan Tambora dalam naskah Bo Sangaji Kai. IyaTambora menjadi terkenal di dunia internasional karena letusannya pada 11 April 1815 yang merupakan terbesar dan dahsyat sehingga menyebabkan kematian lebih dari 71.000 jiwa. Sebagaimana dikutip oleh Wikipedia (2015), letusan terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10 -11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan. Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Menurut peneliti gunung api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen ESDM Igan Sutawijaya dalam seminar Jelang 2 abad letusan Tambora di LIPI, (news.detik.com), akibat letusan ini, volume material yang dimuntahkan 3 kali lebih banyak dari letusan Krakatau. Hujan abu ini sejauh 1.300 Km, dengan dentuman dari kawah terdengar hingga jarak 2.600 Km. Semburan abu dari letusan Gunung Tambora menutupi permukaan bumi sehingga membuat wilayah utara bumi mengalami penurunan suhu sampai beberapa tahun tanpa musim panas. Selain itu, aliran lava yang menuju laut mengakibatkan tsunami dengan tinggi gelombang 4 meter. Aliran lava dan debu ini menyebar di area 874 Km persegi dengan ketebalan 7 meter. Lava dan debu ini menghanguskan apa pun yang dilewatinya, termasuk manusia, pohon dan buah-buahan. Suhu awan panas mencapai 1.000 derajat Celsius sehingga menghanguskan apapun yang ditemuinya.

Letusan tersebut tiga kali lebih dahsyat daripada letusan gunung Krakatau pada tahun 1883. Sangat dahsyatnya sehingga ketinggian gunung Tambora yang tadinya 42.000 meter menjadi 2.851 meter di atas permukaan laut. Itulah gambaran sangarnya gunung Tambora saat itu yang menjadi perhatian internasional karena letusan dan efeknya. 

Bukti-bukti arkeologis pascaletusan setelah 200 tahun ditemukan oleh para peneliti. Sisa-sisa Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat berhasil ditelusuri peneliti dari Universitas Rhode Island Amerika Serikat, Prof. Haraldur Sigurdsson pada tahun 2006. Hasil penelusuran pada waktu itu kemudian diberitakan BBC dengan judul ‘Pompeii dari Timur’. Tim tersebut menggali bukti adanya kebudayaan yang hilang yang musnah karena letusan gunung Tambora. Situs tersebut terletak 25 km sebelah barat kaldera, di dalam hutam, 5 km dari pantai. Mereka menggali kembali rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk perunggu, peralatan besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi artifak memiliki kesamaan dengan artefak dari Vietnam dan Kamboja. Hal ini menunjukan majunya kebudayaan di Sumbawa waktu itu. 


Penggalian artefak dan bukti artefak yang ditemukan dalam mengungkap 
keberadaan Kerajaan Tambora
(dok gbr: www.bbc.com)
Selain bukti arkeologis juga terdapat keanekaragaman hayati yang perlu diteliti. Bahkan ditemukan enam spesies hewan baru oleh para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada saat eksplorasi tanggal 15 - 30 April 2015 (news.detik.com). "Ada enam spesies baru, yakni dua cicak, dua kupu-kupu malam alias ngengat, satu serangga kala cemeti dan satu opiliones‎," kata Ketua Tim LIPI, Cahyo Rahmadi dalam jumpa pers soal temuan ini, di Gedung LIPI, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (12/4/2015). 

Selain menemukan enam spesies baru, tim peneliti juga mencatat kekayaan flora dan fauna di kawasan Taman Nasional Gunung Tambora ini. Ada 22 spesies flora, 46 spesies burung, 21 spesies reptil, dan empat spesies amfibi, dan 10 spesies mamalia.


Ada pula spesies kelompok kerabat kalajengking dan laba-laba sebanyak 10 spesies, juga kelompok kupu-kupu malam ada 230 spesies. Pada kelompok tawon, ada 27 spesies. Namun diperkirakan jumlah spesies masih bisa bertambah bila dilakukan kajian yang lebih mendalam.

Waktu yang sesuai untuk mendaki Tambora adalah bulan Juli - Agustus karena cuacanya baik dan bersahabat sehingga dapat memperoleh keindahan yang mempesona. Apa saja yang menarik dan mempesona di gunung Tambora:
  • 1. Kawah atau kaldera dengan nama Doro Afi Toi dengan lebar 7 km dan diameter 16 km. Kedalaman kawah dari puncak sampai dasar kawah mencapai 800 meter. Sehingga disebut kaldera terbesar atau The Great Crater.
  • 2. Padang pasir luas di sepanjang bibir kawah.
  • 3. Bunga Edelweiss kerdil yang berbeda dengan di gunung-gunung lain di Indonesia dengan tinggi sekitar 0,5 meter sampai 1,5 meter yang tumbuh dengan jarak masing-masing berjauhan (sekitar dua meter sampai 100 meter).
  • 4. Banyaknya batu-batuan berlapis yang bagian atasnya datar seperti meja.
  • 5. Pemandangan alam yang mempesona dari puncak gunung seperti terlihat kawah, lautan, pulau Sitonda, padang pasir, dan hutan.
  • 6. Kawasan utara (Tambora Wildlife Reserve) sebagai kawasan tangkapan atau penyedia air terutama bagi Kabupaten Bima dan Dompu. Sedangkan kawasan selatan sebagai hunting park atau kawasan berburu karena banyaknya fauna seperti rusa Timor, babi, dan sebagainya. 
  • 7. Sunrise dari puncak gunung.

Transportasi

Bagaimana cara bepergian ke gunung Tambora yang berada di pulau Sumbawa tepatnya Kabupaten Dompu dan Bima? Anda dapat menempuhnya dengan membeli tiket pesawat di www.airpaz.com. Hampir semua pesawat memiliki rute perjalanan ke pulau Lombok tepatnya Mataram (Ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat). Setelah sampai kita harus ganti pesawat untuk tujuan ke Bima dengan pesawat seperti Merpati dan Wings Air. Penerbangan dari Lombok ke Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III di Bima, selanjutnya menyeberang melalui Pelabuhan Tanjung Pengamas - Calabai sekira 5 jam. Calabai merupakan kota paling utara di kaki gunung Tambora. Selanjutnya untuk menuju puncak dapat melalui dua jalur pendakian yaitu dusun Pancasila, yang selanjutnya akan melewati 5 pos pendakian. 

Jalur lainnya yaitu melalui dusun Doro Mboha di tenggara gunung Tambora. Rute ini biasanya dipakai untuk memantau aktivitas gunung.

Kondisi medan perjalanan akan sering menjumpai tanjakan dengan tingkat kemiringan mencapai 60 derajat. Jalur pendakian lain yaitu Kawinda Toi. Jalur pendakian ini disebut Cahyo yang dipenuhi hutan tropis dan sabana (padang rumput). Namun kita harus hati-hati dalam perjalanan mengingat medan yang menantang dan tantangan akan rintangan dari tanaman dan beberapa binatang kecil yang kurang bersahabat dengan pendaki. Pendakian secara umum menempuh waktu tiga hari dua malam. 

Sekali lagi, berwisata ke gunung Tambora maka kita tidak hanya akan belajar dan menikmati keindahan gunung. Namun kita akan dipuaskan dengan belajar jejak sejarah Tambora, keanekaragaman flora dan fauna, keragaman budaya masyarakat, dan tentunya kuliner khas Sumbawa. Nah .... selamat mencoba dan selamat berpetualang. Dengan belajar sejarah Tambora kita akan menjadi bijaksana (historia viva magistra) dan dengan mendaki gunung tinggi seperti Tambora akan dapat membuat kita menjadi pemimpin yang bijaksana. Ayo ke Tambora.


Ke Bedugul Bali


Setelah Tambora, destinasi berikutnya adalah Bedugul, sebuah danau di Bali dengan keindahan alam yang cantik dan memikat. Sudah dua kali saya kesana namun selalu merasa kurang kalau mengingat pemandangan dan wisata airnya. Dengan Wings Air dari Bandara Sultan Kaharudin Bima, perjalanan dilanjutkan ke Mataram. Berikutnya dengan Garuda Indonesia menuju Denpasar Bali. Selanjutnya perjalanan darat ke Bedugul.


Sampai di Bedugul diusahakan masih pagi atau siang agar dapat melihat pemandangan alam yang indah. Di pinggir danau, dengan berdiri di rumah kayu atau dermaga perahu nampak pemandangan danau dan pegunungan menghijau. Perahu dapat kita sewa untuk menuju ke tengah danau menikmati jernih dan segarnya air dan udara alami. 

Pemandangan di Bedugul.
Setelah puas menyusuri danau, selanjutnya menikmati hidangan di restauran pinggir danau. Restoran dengan interior adat atau budaya Bali sangat terasa ramah dan nyaman. Nah .... semoga dapat ke Bedugul lagi.

Referensi:

http://news.detik.com/berita/580402/letusan-gunung-tambora-terbesar-sepanjang-sejarah
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora
http://news.detik.com/berita/2913104/lipi-temukan-6-spesies-baru-selama-ekspedisi-nkri-di-tambora
http://lokasiindonesia.blogspot.com/2013/10/peta-indonesia.html
http://news.detik.com/berita/2884303/begini-kepanikan-raja-bima-sebelum-tambora-meletus-dalam-catatan-naskah-kuno
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/04/150408_sisa_kerajaan_tambora



2 comments:

  1. Jangan lupa ngajak teman dan keluarga ya ..... kan pada kepengin juga kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya... semoga tiket hadiahnya bisa untuk dua orang. Makanya nulis artikelnya berusaha yang terbaik.

      Delete

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
//