Selamat Membaca. Semoga dapat membantu Anda dalam memperoleh informasi yang diinginkan.
“Bertambah usia, artinya berkuranglah jatah hidup ini. Tetapi itu tidak mengurangi eratnya pengabdian. Bahkan seiring berjalannya waktu, pengabdian dan dharma bakti Universitas Terbuka terasa semakin kokoh dan profesional. Semoga Tuhan memberi umur panjang yang penuh dengan manfaat dan kebaikan”.

Thursday, 18 April 2013

Pengaruh Media dalam Berita Kasus Tasripin yang Menghidupi Ketiga Adiknya

Rochimudin | Thursday, 18 April 2013 | 14:42 |
Kisah Tasripin, Bocah 12 Tahun yang Harus Menghidupi Ketiga Adiknya 
Tasripin (kiri) beserta adik-adiknya(Foto: Arbi/detikcom)
Jauh di sebuah Dusun di Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Tasripin (12) bocah tanggung dari Dusun Pesawahan harus hidup sendiri dan mencari nafkah untuk menghidupi ketiga adiknya Dandi (9) Riyanti (7) dan Daryo (5). Tasripin harus bekerja di sawah agar adik-adiknya tetap bisa makan.

Di rumah bilik kayu dengan luas 5x7 meter persegi dengan satu ruang kamar luas 3x3 meter persegi dan sebuah dapur dengan tungku kayu bakar serta isi perabotan yang sangat sederhana dan hanya terdapat dua buah kursi panjang dan satu meja, beralaskan lantai semen yang sudah pecah, hidup empat bocah sebatang kara. 


Ayah mereka pergi bekerja di Kalimantan bersama kakak tertuanya, sementara ibunya meninggal akibat tertimbun longsor saat sedang mencari pasir satu tahun lalu.
Kini bocah-bocah tersebut harus hidup sebatang kara dan tidur dalam satu kamar dengan kasur dan bantal yang sudah tampak lusuh dengan ditutupi matras. Ketiga adiknya sangat mengandalkan kakak kedua mereka, Tasripin, yang setiap hari harus bekerja di sawah dengan mencangkul, membersihkan sisa-sisa padi serta menanam padi bersama warga desa pada saat masa tanam.

"Ibu sudah meninggal dan bapak bekerja di Kalimantan bersama kakak," kata Tasripin, Jumat (12/4/2013). Hampir setiap hari, Tasripin mesti pergi ke sawah untuk mencari uang demi menghidupi ketiga adiknya. Para tetangga sekitar yang simpati dengan keadaan Tasripin pun kadang sering membantu menberikan nasi maupun lauk pauk bagi bocah-bocah tersebut. Tak jarang mereka hanya makan dengan nasi seadanya namun tampak nikmat.
"Kalau berangkat ke sawah jam 7 pagi dan pulang jam 12 siang. Kadang sehari dapet Rp. 30 - 40 ribu sehari. Itu beli beras dan sayur. Sisanya untuk jajan adik," jelas bocah yang telah putus sekolah itu.

Pagi sebelum dia berangkat ke sawah, Tasripin harus memasak nasi dan sayur untuk adik-adiknya. Selain memasak, dia juga harus mencuci pakaian, menyapu serta memandikan adik-adiknya. Tapi bukan hanya sekedar memandikan dan memberikan makan untuk adik-adiknya, dia pun bertanggung jawab terhadap akhlak adik-adiknya dengan mengajak adik-adiknya salat dan mengaji di musala depan rumahnya.

Tanggung jawab yang besar membuat dia harus bekerja keras, tidak jarang jika tidak mendapatkan pekerjaan, dia harus mengutang beras di warung. "Kalau tidak ada uang suka utang di warung, bayarnya nanti kalau bapak pulang," katanya.

Saat ini Tasripin harus berhenti bersekolah, karena menunggak biaya SPP, sementara kedua adiknya Dandi dan Riyanti pun tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek oleh teman-temannya. Hanya Daryo, adik terakhirnya yang masih bersekolah di PAUD di dusun tersebut.
"Sudah tidak sekolah SD, hanya satu adik saya yang sekolah di Paud, Kadang saya yang biayain, kadang menunggu kiriman dari bapak," ujarnya polos.

Dulu saat sekolah dia harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer untuk mencapai tempat sekolahnya, jalan berbatu dan perbukitan serta hutan harus dilalui dia setiap harinya. Maklum, Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok berada di lereng kaki Gunung Slamet demgan jumlah penduduk 319 Jiwa dengan 187 rumah.

Berita diatas dimuat oleh detik.com tanggal 13 April 2013, bagaimana respon publik terhadap berita diatas, ini contoh responnya:

PURWOKERTO, KOMPAS.com — Bantuan untuk Tasripin, bocah berusia 12 tahun di pelosok Banyumas yang menjadi kepala keluarga dan menanggung beban ketiga adiknya sejak ditinggal orangtuanya, terus mengalir. Selain mengirim bantuan melalui rekening Tasripin yang dibuatkan oleh BRI, sejumlah donator juga langsung menyerahkan bantuan kepada Tasripin di rumahnya.

Kisah warga Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang harus bekerja sebagai buruh tani untuk makan sehari-hari ketiga adiknya, menggungah rasa kemanusiaan publik.

Tasripin dan ketiga adiknya di rumah (dok: kompas.com)
Dr Karina Moegni, misalnya, seorang donatur asal Jakarta, menyatakan tergugah oleh kisah Tasripin yang harus bekerja keras dan melepaskan kesempatannya untuk bersekolah karena harus tetap menghidupi ketiga adiknya. "Saya mempertanyakan reaksi pemerintah terhadap kondisi masyarakatnya seperti ini. Bagaimana para politisi berebut uang anggaran, sedangkan jauh di sana, satu bocah berjuang keras hanya untuk makan nasi kerupuk," tutur Karina, Kamis (18/4/2013).

Achyani, seorang pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Semarang, juga menyatakan sangat tersentuh mendengar berita mengenai Tasripin. "Ini menjadi otokoreksi buat kita yang masih sering mengeluh. Kita harus selalu bersyukur jika melihat kondisi Tasripin," ungkapnya.Sejumlah pembaca Kompas yang tergugah juga mengulurkan bantuan kepada Tasripin sejak berita tersebut dimuat di harian Kompas pada Senin. Bantuan dapat disalurkan melalui rekening Tasripin di BRI Cilongok, Banyumas, 6600.01.000084.52.1, atas nama Tasripin.

PURWOKERTO, suaramerdeka.com- Sekretaris Komisi D DPRD Banyumas, Yoga Sugama, mendesak pemerintah untuk memperhatikan secara serius nasib Tasripin (13), yang menghidupi sendiri ketiga adiknya. ‘’Sebagai warga negara Tasripin masih menjadi tanggung jawab negara, karena dia dan adik-adiknya warga Banyumas secara otomatis menjadi tanggung jawab Pemkab,’’ tandasnya, kemarin.

Dalam usia remaja dengan menghidupi ketiga adiknya, yakni Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4), kata Yoga, sangat tidak wajar. Mestinya, mereka masih menikmati usia sekolah maupun bermain. ‘’Kalau datang hanya memberi bantuan itu sifatnya hanya emergency saja, bukan menyelesaikan akar masalah yang diderita keluarga tersebut,’’nilai dia.
Komisi D, lanjut dia, akan mengawal agar nasib mereka benarbenar diperhatikan terutama kebutuhan sekolah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Wakil rakyat dari Gerindra itu, secara pribadi maupun kelembagaan merasa kecolongan ada kasus yang memilukan masih ada di Banyumas dan selama ini tidak tercover oleh pemerintah dan DPRD.

‘’Kami mendorong Pemkab untuk segera mengambil solusi nyata, bukan sekadar pemberian bantuan insidental.’’ Bupati Banyumas Achmad Husein, Sabtu lalu langsung menengok Tasripin dan ketiga adiknya di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok. Dalam kesempatan itu, Bupati memberikan bantuan logistik dan sejumlah uang. Bupati berjanji akan menghubungi orang tuanya yang bekerja di Kalimantan agar pulang mengurus anak-anak tersebut.
Saat di Banyumas Pemkab akan berusaha membantu mencarikan pekerjaan yang sesuai. Bupati meminta kepada dinas terkait agar mulai tahun ajaran depan, Tasripin kembali bersekolah. ‘’Kita akan coba hubungi bapaknya di Kalimantan supaya kembali ke sini dan bisa mengurus anak-anaknya, karena tidak baik anak-anak hidup sendiri seperti itu. Bapaknya akan kita dicarikan pekerjaan, sehingga bisa bekerja sambil mengurus anak-anaknya,’’ kata Husein.

Sementara rencana pemulangan Kuswito, ayah Tasripin, sudah diupayakan. Kemarin, menurut Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Banyumas Nooryono, Pemkab telah mengupayakan penyediaan tiket pulang ke Banyumas. Namun demikian, hal itu tak berjalan mulus lantaran hambatan geografis. ‘’Mau dibelikan tiket untuk pemberangkatan, tapi ternyata jarak antara tempat tinggal Kuswito dengan bandar udara terdekat amat jauh. Butuh waktu dua hari dua malam untuk sampai ke bandara,’’ ujarnya.

Tetap Disatukan Kuswito, lanjut dia, saat ini tinggal di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Manismata, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Sementara terkait penanganan Tasripin dan adikadiknya, Dinsosnakertrans mengupayakan untuk menitipkan mereka ke panti sosial, dengan tetap disatukan, tidak dipisah seperti rencana sebelumnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, terkait dengan penanganan empat bocah warga Dusun Pesawahan Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, yang telantar, Dinsosnakertrans Banyumas telah berkoordinasi dengan Balai Rehabilitasi Sosial Budi Sakti untuk menitipkan bocah-bocah tersebut. ‘’Sudah koordinasi di sana siap menerima, sebab memang ada alokasi dari balai tersebut. Bahkan, alokasi sebenarnya bagi 11 orang.

Untuk yang puteri akan dititipkan di Unit Rehabilitasi Sosial Mardi Yuwono Wonosobo, sementara bagi yang usianya di bawah lima tahun akan dirawat di Unit Rehabilitasi Sosial Wilosotomo Salatiga,’’ ucapnya. Kendati demikian, saat ini pihaknya masih menunggu kabar dari orang tua bocah-bocah tersebut. Menurutnya dengan tinggal di balai rehabilitasi sosial, ke empat kakak-beradik yang selama ini telantar, akan mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Perawatan yang diberikan mencakup pendidikan, dan perawatan sehari-hari.

twitter pribadi Presiden SBY  (dok: http://news.liputan6.com)


Tasripin Bertemu Bapaknya
Tasripin (13) dan ketiga adiknya, yakni Dandi (9), Riyanti (7) dan Daryo (4), warga Dusun Pesawahan Desa Gununglurah Kecamatan Cilongok, akhirnya bisa bertemu kembali dengan ayahnya, Kuswito (40), kemarin (Sabtu, 20 April 2013). Pertemuan berlangsung di ruang Bupati Banyumas sekitar pukul 07.30. Hadir dalam pertemuan itu Bupati Achmad Husein dan istri, Ny Erna Husein, pihak desa dan kecamatan serta sejumlah relawan yang mendampingi keluarga papa tersebut. 
Tasripin dan adiknya bertemu ayah mereka (dok: vivanews.co.id)
Pertemuan yang menyita perhatian banyak pihak ini terlangsung haru. Begitu melihat keempat anaknya, spontan Kuswito langsung berlari kecil dan berusaha mendekat ke arah mereka.

Kuswito merantau dan bekerja di Kalimatan sejak Oktober tahun lalu. Ia tiba di Banyumas pada Sabtu (20/4) dini hari bersama Kepala Dinsosnakertran Nooryono dan tim penjemput. Tim Pemkab Banyumas menjemput dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Tiba di rumah, ia mengaku akan merawat empat anaknya lagi dan memanfaatkan berbagai bantuan yang ada untuk kelangsungan hidup keluarga dan pendidikan anak.

Bupati Husein mengatakan, di Dusun Pesawahan akan diupayakan dibangun sekolah setingkat sekolah dasar (SD). Selama ini, anak-anak dusun tersebut terpaksa harus menimba ilmu di SD yang berada di Dusun Karangondang, Desa Sambirata.

Jaraknya cukup jauh, dan harus berjalan kaki melewati perbukitan dan hutan milik Perhutani KPH Banyumas Timur. Sebagian ada yang putus sekolah seperti Tasripin karena kondisi medan dan kondisi ekonomi keluarga.

“Untuk sampai ke sana (Pesawahan), kendalanya yaitu medan berat karena jalan terjal bebatuan dan belum diaspal,” ungkap bupati. Jalan menuju Pesawahan, lanjut bupati, masuk wilayah Perhutani, sehingga tidak serta merta bisa ditingkatkan seperti diaspal. “Ini yang akan kami bicarakan dengan pihak Perhutani, bagaimana baiknya. Harapan kami jalan tersebut segera diaspal,” katanya.

Diungkapkan bupati, usulan pengaspalan sebelumnya belum bisa disetujui Perhutani karena dikhawatirkan seandainya diaspal akan berpotensi terjadinya pencurian kayu.


Kesimpulan:
Itulah efek pemberitaan media massa, setelah publik atau masyarakat tahu, maka akan ada empati dan simpati. Rasa solidaritas dan kemanusiaan publik akan tersentuh, juga pemerintah. Sekarang kembali kepada keluarga Tasripin untuk berkomitmen dan menjaga anak-anaknya. Peran pemerintah agar tidak terulang masalah yang serupa pada Tasripin sangat dibutuhkan untuk kemandirian ekonomi keluarga Tasripin. Salut pada Presiden SBY dan Pemda yang telah berhasil menggerakan pemerintahan sampai ke daerah untuk memperhatikan keluarga Tasripin. 
 
Sumber Bacaan:
  • http://news.detik.com/read/2013/04/13/060333/2219273/10/kisah-tasripin-bocah-12-tahun-yang-harus-menghidupi-ketiga-adiknya
  • http://regional.kompas.com/read/2013/04/18/13025451/Publik.Tergugah.oleh.Kisah.Tasripin
  • http://news.liputan6.com/read/564686/sby-nge-twit-tentang-kisah-pilu-bocah-tasripin
  • http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/04/17/221999/Nasib-Tasripin-dan-Ketiga-Adiknya-Harus-Dijamin-Negara
  • http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/04/21/222431/Si-Bungsu-Tolak-Digendong-Ayahnya

Get free daily email updates!

Follow us!


Ditulis Oleh: Rochimudin ~ Untuk Pendidikan Indonesia

Artikel Pengaruh Media dalam Berita Kasus Tasripin yang Menghidupi Ketiga Adiknya Semoga bermanfaat. Terimakasih atas kunjungan dan kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar baik FB comment maupun comment di blog. Sebaiknya berikan comment selain di FB comment agar cepat teridentifikasi.

Artikel Berkaitan:

6 comments:

  1. Saya sangat kagum dengan perjuangan taspirin yang menjadi tulang punggung di keluarganya. Selain menjadi tulang punggu dikeluarganya diapun juga harus menjaga ketiga adiknya, dan juga harus membiayai adiknya Daryo yang masih bersekolah. Akan tetapi seharusnya dalam permasalahan ini pemerintah turun tangan untuk membantu taspirin dengan cara memberikan dana bantuan untuk dia dan kedua adiknya untuk kembali kesekolah lagi, sehingga taspirin dan adiknya dapat menyelesaikan sekolahnya dan dapat meraih cita-citanya dengan begitu taspirin dan adiknya dapat merubah ekonomi pada keluarganya. Melihat permasalahan yang dihadapi oleh taspirin kita seharusnya sadar bahwa kita tidak boleh mudah mengeluh dengan permasalahn yang kita hadapi karna ternyata diluar sana masih banyak orang yang menghadapi masalah jauh lebih berat dibanding masalah yang kita hadapi.(Hasna Aghnia Alin)

    ReplyDelete
  2. Saya sangat terharu melihat nasib taspirin yang memutuskan sekolah untuk mencari kerja agar ia dan adik- adiknya tidak kelaparan. Hal ini dapat membuat kita menyadari bahwa nasib taspirin merupakan sebuah instropeksi diri ,dan juga mengingatkan pada pemerintah bahwa masih banyak warga negaranya yang membutuhkan perhatian lebih.Saya yakin bahwa masih banyak taspirin taspirin lainnya diluar sana,Selayaknya kita patut bersyukur kepada Allah dan membantu saudara saudara kita diluar sana yang masih banyak membutuhkan pertolongan (Riska Kristiana)

    ReplyDelete
  3. Saya bangga dan kagum dengan Tasripin. Diusianya yang masih muda dia harus menanggung beban seberat itu. Dia rela bekerja demi menghidupi ketiga adiknya.
    Harusnya Pemerintah melindungi nasib anak yang kurang beruntung seperti Tasripin, dengan cara membangun suatu lembaga masyarakat yg di dalamnya mengajarkan macam - macam ilmu pendidikan di setiap desa terpencil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang pemerintah perlu memperhatikan dan itu telah dilakukan baik presiden SBY, Pemda, Kementerian Agama, dan Kodim Banyumas. Namun hikmah yang dapat kita petik, jangan mudah menyerah dan putus asa, Tasripin telah membuktikannya.

      Delete
  4. Saya kagum dan harus mengacungi jempol dengan apa yang dilakukan Tasripin. Seharusnya kita sebagai remaja, harus bersyukur dan merasa beruntung dengan apa yang telah kita dapat sekarang. Tidak banyak orang beruntung seperti kita, contohnya saja Tasripin yang terpaksa harus menghidupi adik-adiknya dengan usia yang masih sangat muda, namun semangatnya untuk tidak pernah putus asa yang tinggi dapat memotivasi kita sebagai remaja Indonesia untuk memajukan bangsa kita juga. Masih banyak anak di pelosok Indonesia yang bernasib sama seperti Tasripin, seharusnya pemerintah Indonesia tidak hanya berhenti di kisah Tasripin saja, pemerintah juga harus lebih peduli dengan anak-anak di pelosok-pelosok negri yang nasibnya mungkin hampir sama dengan yang dialami Tasripin. (Widiyuta Ayudya)

    ReplyDelete
  5. saya sangat kagum dengan tasripin . masih belia sudah harus memikul tanggung jawab untuk menghidupi adik adiknya . sayangnya masih banyak anak-anak hebat seperti tasripin yang belum tersorot oleh perhatian kita . semoga saja pemerintah tidak mengabaikan anak-anak seperti tasripin (ara wildha yualta)

    ReplyDelete

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
//