Selamat Membaca. Semoga dapat membantu Anda dalam memperoleh informasi yang diinginkan.
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

PM Norwegia Nyamar Jadi Sopir Taksi, Patut Ditiru Pejabat RI

Rochimudin | Selasa, 13 Agustus 2013 | 08.47 | Comment
PM Norwegia saat menyamar jadi sopir taksi
(news.com.au)
Aksi Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg yang menyamar menjadi sopir taksi untuk mencari tahu aspirasi rakyatnya patut diacungi jempol. Stontenberg sambil menyopir mengenakan seragam, mengantar sebagian warganya ke tempat tujuan sambil membahas isu-isu tertentu. Beranikah pejabat Indonesia melakukan langkah seperti Stontenberg?

Rabu, 13 Februari 2013

Berikan Sandalnya kepada Manula, Pria Korea Banjir Pujian

Rochimudin | Rabu, 13 Februari 2013 | 07.15 | 4 Comments so far
Kisah Teladan
Berikan Sandalnya kepada Manula, Pria Korea Banjir Pujian
 
Rabu, 13 Februari 2013 | 06:19 WIB
Choi Dae Ho (dok: kompas.com)
SINGAPURA, KOMPAS.com — Choi Dae Ho, pria Korea yang sedang berkunjung ke Singapura, dibanjiri pujian setelah perbuatan mulianya menjadi buah bibir masyarakat.
Kamera seorang warga mengabadikan dia ketika memberikan sandalnya sendiri kepada seorang perempuan manula yang telanjang kaki di dalam bus kota. Meski merupakan pelatih taekwondo yang menggenggam sabuk hitam, bukan berarti Choi bersosok keras. Kelembutan hatinya terlihat dari ketulusannya.

Selasa, 18 Desember 2012

Cerita Martha Tilaar

Rochimudin | Selasa, 18 Desember 2012 | 08.41 | Comment
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemilik bisnis kosmetik ternama Martha Tilaar pernah divonis sebagai anak yang lambat belajar alias slow learner. Namun, dia mampu mengembangkan potensinya sebagai pebisnis sukses di bidang kosmetik yang menggali dari kekayaan alam negeri ini.
"Saya sempat minder. Ranking tiga dari belakang di kelas. Tetapi, untungnya saya punya ibu dan keluarga yang selalu memotivasi," kata Martha dalam acara peluncuran buku dan HUT ke-80 suaminya HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di Jakarta, Sabtu (7/7/2012).

Kamis, 29 November 2012

Fun Rafting with Smapala

Rochimudin | Kamis, 29 November 2012 | 18.42 | 2 Comments so far
Siap rafting, lokasi di start point.
      Rafting atau arung jeram, ya .... olahraga ini mengadu dan memacu adrenalin, mengatur emosi, dan kekompakan tim. Acara fun rafting yang dihelat Smapala (SMA 5 Pecinta Alam) tanggal 25 November ini diikuti 29 peserta. Peserta dibagi menjadi 6 boat/kapal. 
Setelah transit di embarkasi rafting Kampung Ulu Magelang, peserta menuju starting point di sungai elo (elo river).


Kamis, 25 Oktober 2012

Kenangan di SMA 7

Rochimudin | Kamis, 25 Oktober 2012 | 00.13 | 2 Comments so far


Foto di buku kenangan alumni
Malam ini pukul 23.39 WIB serasa akan ada pikiran yang selama ini menggeleyut akan terbang lepas. Rasa hati yang mendua secara de facto yaitu antara hati di SMA 7 dan SMA 5 akan diputus hitam putih besok pagi (Kamis, 25 Oktober 2012). Lima tahun berkarya di SMA 7 jelas telah memberi guratan tinta emas di lubuk hati. Terasa telah kuberikan kerja, karya, komitmen, dan pengabdian secara optimal. Idealisme puncak telah kupersembahkan kepada SMA 7 menuju gerak perubahan mencapai prestasi mumpuni. Tentu saja aku hanyalah salah satu dari sekrup atau komponen lain yang memerlukan kerjasama sehingga sekolah ibarat mobil yang terus bergerak.



Kenangan Bersama Sobat Karib

Rochimudin | Kamis, 25 Oktober 2012 | 00.09 | Comment
3 Juli 2011, ketika grup rewo-rewo bersama pergi ke rumah mbak Ani di Bantul - Yogyakarta dalam rangka silaturahmi dan dolan. Berkunjung ke pantai Samas dan pulangnya mampir di perkebunan salak di lereng Gunung Merapi. Waktu itu Merapi meletus belum lama sehingga di jalan-jalan sekitar perkebunan masih banyak debu gunung numpuk di pinggir jalan atau tegalan.
Perkebunan itu milik Bu Kusmiatun sekeluarga. Kebetulan saat itu pas panen salak, jadi pada metik salak langsung dari pohonnya dan tanpa lama-lama dan rasa malu langsung aja di makan. Ya wisata agro setelah wisata pantai.
Sebelumnya karena berangkat Sabtu kesorean, maka malamnya menginap dulu, lihat semuanya mimpi tidur di springbed sehingga nggak ada yang tak bisa tidak tidur. Lebih lagi saat itu hawa Jogja begitu dingin.


Asyik, kapan lagi bro ....

Sabtu, 14 Juli 2012

Anak Lambat Belajar Bisa Sukses Jadi Pengusaha

Rochimudin | Sabtu, 14 Juli 2012 | 12.12 | Comment
Martha Tilaar
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemilik bisnis kosmetik ternama Martha Tilaar pernah divonis sebagai anak yang lambat belajar alias slow learner. Namun, dia mampu mengembangkan potensinya sebagai pebisnis sukses di bidang kosmetik yang menggali dari kekayaan alam negeri ini.
"Saya sempat minder. Ranking tiga dari belakang di kelas. Tetapi, untungnya saya punya ibu dan keluarga yang selalu memotivasi," kata Martha dalam acara peluncuran buku dan HUT ke-80 suaminya HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di Jakarta, Sabtu (7/7/2012).
Menurut Martha, dirinya lemah jika disuruh belajar Matematika dan ilmu pasti lainnya. Namun, dia menyenangi sejarah, budaya, dan lingkungan hidup. "IQ memang jongkok. Tetapi, ibu saya membekali saya dengan kreativitas. Dari kecil saya diajar untuk bisa mengembangkan hal-hal kreatif yang ada di sekeliling sehingga menghasilkan uang. Dari sinilah, jiwa bisnis saya dengan bekal kreativitas tumbuh dan berkembang," ujar Martha.
Menurut Martha, yang kini jadi pengajar di bidang herbal di pascasarjana Universitas Indonesia, dalam mendidik anak-anak slow learner, yang penting terus dimotivasi. Anak-anak ini harus dilihat potensinya sehingga dapat berkembang maksimal.
Dorongan ibu, keluarga, dan suami tercinta mampu membuat Martha terus mengembangkan potensi dirinya sebagai pengusaha kosmetik yang memanfaatkan ramuan tradisional yang dikombinasikan dengan teknologi modern. Alhasil, usaha bisnisnya di bidang kosmetik berkembang pesat dan mendapat pengakuan di dalam dan luar negeri.
Bahkan, Martha terpilih menjadi satu dari 14 anggota Global Compact Board di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga ini sebagai badan penasihat tertinggi pada PBB yang melibatkan organisasi bisnis, masyarakat sipil, pekerja, dan pengusaha.
Martha juga mendapat gelar doktor honoris causa dari kampus di Amerika Serikat. Di dalam negeri, Martha fokus untuk memberdayakan para perempuan, pengembangan kewirausahaan, hingga kepedulian pada lingkungan hidup lewat pendirian Kampung Djamu Organik di Cikarang, Bekasi.
Martha berharap supaya pendidikan di Indonesia dapat mengutamakan pengembangan potensi setiap anak. Pendidikan di sekolah tidak hanya untuk menghasilkan anak-anak pintar. "Yang perlu saat ini, anak-anak bisa menjadi pribadi yang kreatif dalam bidang yang disukainya," kata Martha. 
(dikutip dari http://edukasi.kompas.com/read/2012/07/07)

Jumat, 01 Juni 2012

Kembalikan Pendidikan Pancasila dalam Kurikulum Nasional

Rochimudin | Jumat, 01 Juni 2012 | 11.51 | Comment
JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan Pancasila dipandang perlu untuk kembali dimasukkan dalam kurikulum nasional demi mempersiapkan anak didik menjadi warga negara dewasa yang bertanggung jawab, aktif, dan berani berinisiatif, memperkokoh keberagaman, menegakkan kedaulatan rakyat, dan memperjuangkan keadilan sosial. Tapi, mesti dikawal bersama agar pendidikan Pancasila tidak menjadi alat hegemonik kekuasaan seperti yang terjadi pada masa orde baru.
Demikian pernyataan bersama Sekolah Tanpa batas dan Koalisi Pendidikan yang disampaikan di Jakarta, Jumat (1/6/2012), terkait peringatan hari lahir Pancasila yang jatuh hari ini. Aktivis Sekolah Tanpa Batas, Bambang Wisudo mengatakan, nilai-nilai Pancasila penting dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar hingga tinggi.
"Konteks pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan jangan sekadar mengetahui dan menguasai materi saja, tapi harus pada melakukan dan mempraktikkan nilai ideologi tersebut," ucapnya.
Metode pembelajarannya, kata dia, juga harus mengedepankan dialog, pelibatan siswa, dan pemecahan masalah. Menurutnya, pendekatan pembelajaran tersebut sangat penting sebagai upaya untuk membangun kesadaran kritis anak didik dan masyarakat secara luas.
Selain itu, ia menyampaikan, seyogianya pelajaran nilai-nilai Pancasila terangkum dalam kurikulum yang terintegrasi dengan mata pelajaran lain. Dengan demikian, mata pelajaran Pancasila tidak hanya menjadi tanggungjawab guru pengampu mata pelajaran tersebut, tapi juga semua guru.
"Guru pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan perlu diberdayakan bukan hanya memberikan pelatihan-pelatihan administratif dan metode mengajar, tetapi juga memperkuat otoritas profesional guru," pungkasnya.(dikutip dari www.kompas.com: 1/6/2012)

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

//